Kawah Sikidang Banjarnegara

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Komplek Candi Arjuna, Dieng Banjarnegara

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Keramik Klampok, Banjarnegara

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Batik Gumelem, Banjarnegara

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pesta Siaga

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Mubayinah, S.Ag, Pakar Pupuk Organik dari Banjarnegara

Beda  zaman beda pula tokohnya. Jika tokoh-tokoh pejuang wanita masa lalu berjuang dengan cara menimba ilmu agar bisa sejajar dengan  kaum laki-laki, menulis buku untuk mengungkapkan cita-cita dan obesisinya, bahkan menenteng senjata untuk turut serta memperjuangkan kemerdekaan, maka wanita masa kini memiliki caranya sendiri.
Sebutlah Mubayyinah, wanita kelahiran asli Banjarnegara, 4 Mei 1954 ini belum banyak dikenal masyarakat Banjarnegara. Padahal, lebih dari sebelas negara pernah mengirimkan perwakilan negaranya untuk belajar pertanian organik kepadanya. Terakhir, perwakilan dari Negara Vietnam dan Myanmar mengunjunginya pada tanggal 25-27 April lalu.

Senin, 28 Mei 2012

Sujadi, S.Pd. MM, Kepala Sekolah Berprestasi Tahun 2012

Sujadi, S.Pd. MM. pria kelahiran 7 Agustus 1971 yang kini menjadi Kepala Sekolah di SD Negeri 1 Sokanandi, Banjarnegara pernah menceriterakan, kalau peningkatan karier dan kehidupan yang dialami seperti sekarang ini, tak lepas dari perjuangan panjang yang diawali dari seorang guru kelas di daerah pegunungan, tepatnya adalah di SD Negeri 2 Penanggungan, Kecamatan Wanayasa
Pak Jadi, demikian ia biasa di sapa rekan se profesinya menuturkan, menjadi guru SD memang merupakan perjuangan yang harus dilewati sejak awal. Bagaimana tidak, menjadi guru SD yang baru diangkat dengan gaji bulanan yang masih pas-pasan, memaksa pria yang senang dengan persahabatan itu harus menjalani kehidupan dengan pola kesederhanaan.

Jumat, 18 Mei 2012

Sobir, Pembuat Sapu Ijuk yang Tetap Ingin Sekolah


Pagi itu mentari sudah mulai muncul dari ufuk timur,.Adalah waktu yang paling dinanti-nantikan oleh setiap insan untuk melakukan aktifitas. Seperti di tempat-tempat lain, di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, pagi itu aktifitas juga mulai dilaksanakan oleh segenap lapisan masyarakat.
Tak ketinggalan dengan Imam Sobirin (13 th), datangnya mentari pagi juga menjadi kehangatan tersendiri untuk melakukan aktifitas. Sambil berdoa meminta keberkahan dari sang pencipta, Sobir demikian ia biasa dipanggil duduk di kursi kecil (jengkok) sambil memilah-milah ijuk sebagai bahan baku untuk membuat sapu.

Kamis, 08 Maret 2012

Budy-III, Pelukis Realis dari Banjarnegara

Di tengah persaingan dunia Seni lukis yang semakin ketat, perupa beken asal Banjarnegara, yang punya nama lengkap Budiyanto (54 th), hingga kini belum berubah pikiran dan masih tetap pada pendirian semula yakni menekuni aliran naturalis realis. Kenyataan itu masih dibuktikan dengan karya-karya teranyarnya yang pada umumnya adalah lukisan pemandangan dan wajah.

Ditemui di rumah kediamannya disebelah barat kantor Dindikpora Kabupaten Banjarnegara belum lama ini, Budy-III demikian nama panggilan akrabnya menuturkan, tingkat kesulitan menuangkan ekspresi, pewarnaan dan permainan penyinaran adalah pekerjaan yang mengasikkan dan itu dijadikan alasan paling tepat mengapa ia bertahan di aliran tersebut.
Sambil terus mengayunkan kwas halusnya di selembar kanvas, Budy-III mengaku sudah sekitar 40 tahun ia menjadi seorang pelukis. Sejak SMP saya sudah senang corat-coret di kertas dan hingga kini sudah menghasilkan ratusan karya seni yang cukup bagus, katanya.
Selama ini Budy-III hanya melukis berdasarkan pesanan dari konsumen, harganya berfariasi mulai dari Rp 500.000,- sampai Rp 3.000.000,- tergantung tingkat kesulitan dan bahan baku yang digunakan. Bahan baku tersebut adalah cat minyak dan kanvas, cat minyak dan kanvas yang bagus sangat berpengaruh pada hasil sebuah karya lukisan, imbuhnya. Biasanya untuk sebuah lukisan realis, Budy-3 membutuhkan waktu sekitar satu minggu, sedangkan untuk lukisan dengan tingkat kesulitan yang tinggi bisa mencapai dua minggu.
Budy-III selama ini memang dikenal sebagai pelukis yang dekat dengan lingkungan sosial. Lewat lukisan “Bencana banjir” di luar negeri misalnya, dengan mengungkapkan bahasa kanvas yang jelas disertai permainan warna yang harmoni, ia memperlihatkan kepekaannya menangkap kehidupan masyarakat pedesaan di daerah India yang terkena musibah banjir. Begitu pula dalam lukisan berjudul “Pemecah Batu” di pinggiran kali Serayu dan “Berangkat ke sekolah” serta lukisan wajah seorang tua yang semuanya membuat mata betah untuk memandanginya.
Pelukis kelahiran tahun 1957 itu memang belum sempat menggaet papan atas dunia seri rupa nasional. Meski begitu karya lukisannya yang sudah mencapai ratusan lembar itu mampu menyihir penggemar seni rupa untuk betah memandanginya. Kepekaan menuangkan ekspresi, sabetan kwas serta sentuhan warna yang mempesona, nampaknya juga menjadi kekuatan tersendiri.
Seiring dengan kematangannya, nama Budy-III memang belum memperoleh kesempatan untuk menggaet posisi papan atas seni lukis baik tingkat regional maupun nasional. Barangkali itu hanya persoalan waktu dan kesempatan saja, ucap Budiyanto sambil terus mengayunkan kwas halusnya di selembar kanvas lukisan mantan Bupati Banjarnegara.
Tetapi suatu saat perupa yang gemar kopi dan rokok itu akan berusaha menggunakan hak pribadinya untuk bisa menggapai imajinasinya. Setidaknya ia telah melakukan kerjasama dengan tiga galeri yang sudah dirintis sekitar satu setengah tahun yang lalu di Jakarta. Saya masih punya sekitar 20 lembar lukisan naturalis realis di Jakarta, imbuh Budy.
Kini Budiyanto sedang liburan di Banjarnegara untuk beberapa waktu, itupun pesanan terus mengalir. Jika rencananya dikabulkan oleh Tuhan, ia akan tetap tinggal dan berkarya di Banjarnegara sampai kapan saja, ucap Budy-III mengakhiri bincang-bincangnya dengan Penjaga gawsang web ini.  (s.bag)

Joko Rupadi, PNS yang memiliki hobi melukis

Senja itu langit di atas perumahan PNS Kelurahan Semarang nampak kelihatan cerah secerah para penghuninya. Suara kicauan burung yang muncul dari beberapa emperan rumah penduduk menambah indahnya suasana sore itu.
Dari kejauhan, sebuah rumah penuh dengan sentuhan seni memaksa Penjaga gawang web ini untuk segera mendekati. Sang empunya rumah yang sore itu masih asyik mengayunkan kwas halusnya di selembar kanvas langsung mempersilahkan kami untuk segera masuk di ruang tamu.

Pengabdian Mu'minah pada batik tulis "Gumelem"

Awal bulan Maret 2012, hamparan sawah di Desa Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah masih kelihatan hijau. Itu artinya masyarakat disana belum ada kesibukan untuk memanen padi.

Dalam suasana seperti itu masyarakat setempat lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk membatik. Menurut penduduk setempat, kegiatan seperti itu sudah rutin dilakukan oleh kaum perempuan secara turun-temurun sebagai pekerjaan sampingan selain sebagai petani dan buruh tani.
Mu’minah (81 th) dari Desa Gumelem Kulon termasuk salah satu dari sekian banyak ibu rumah tangga yang tetap eksis mempertahankan keberadaan batik tulis “Gumelem” di Banjarnegara. Melestarikan seni adiluhung nenek moyangnya, adalah alasan paling tepat ia mempertahankan seni rupa dua dimensional itu.
Ditemui di rumah kediamannya yang nampak sederhana itu Mu’minah kelihatan sedang sibuk melakukan aktifitas seperti hari-hari biasanya sebagai seorang pembatik. Tangan keriput seorang ibu dengan 10 anak, 22 cucu dan 9 cicit itu sepertinya tak mengenal lelah mengayunkan canting di atas kain putih tanpa pola.
Kami sudah terlalu cinta dengan yang namanya batik, seni itu indah dan memberikan manfaat banyak bagi kehidupan masyarakat, ucap Mu’minah mengawali bincang-bincangnya dengan penjaga gawang blog ini.
Menurut Mu’minah, karya seni dua dimensional seperti batik tulis tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki bakat seni. “Sinten mawon saged mbatik sing penting onten niat”, ucap Mu’minah dalam bahasa Banyumasan yang kurang lebihnya adalah “Siapa saja bisa mewujudkan gagasan kreatifitas itu asalkan ada kemauan keras dan didukung dengan pengetahuan tentang ilmu batik maka setiap orang bisa melakukannya”.
Perajin batik yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan Pegawai Negeri Sipil itu mengaku mulai membatik sejak masih jaman penjajahan Jepang, waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR).
Adapun keahlian dalam mengekspresikan gagasan estetika yang mengandung seni budaya itu tidak di peroleh dari hasil pendidikan seni di bangku sekolah melainkan hasil transferan dari  orang tuanya Ny. Satem (almarhumah) yang juga sebagai pembatik. Menurut Mu’minah, batik tulis di Gumelem, sudah ada sejak zaman kademangan yakni setelah perang Diponegoro.
Mu’minah memang sudah tidak muda lagi, meski begitu ia tidak mau berpangku tangan mengandalkan belas kasihan dari anak-anaknya. Dalam sisa hidupnya ia akan terus berusaha  mengabdikan dirinya dalam dunia seni dua dimensional atau batik tulis, katanya.
Menurut Mu’minah, masa keemasan “Batik Gumelem” beberapa puluh tahun lalu pernah mengalami kemunduran bersamaan dengan adanya perubahan status Kedemangan Gumelem. Melunturnya nilai-nilai sakral dalam kehidupan masyarakat sehari-hari juga menambah suramnya dunia batik di daerah itu.
Namun mulai tahun 2004, nama Gumelem menjadi sering disebut-sebut oleh banyak orang menyusul adanya Surat Edaran Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tentang penggunaan “Batik Tulis  Gumelem” bagi semua Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Kegembiraan para perajin batik nampaknya semakin sumringah setelah sebuah badan dunia (Unesco) mengakui keberadaan “Batik Indonesia” pada tahun 2009. Sejak itu pula “Batik Tulis Gumelem”  mulai dikenal oleh banyak kalangan, tidak hanya di daerah Banjarnegara sendiri, tetapi mulai dikenal pula oleh daerah lain.
Mu’minah, mengembangkan batik secara mandiri baru sekitar dua tahun terakhir ini, dengan modal pinjaman dari PNPM sebesar Rp 1.000.000,-. Sebelumnya ia hanya sebagai tenaga pembatik pada pengusaha lain di Gumelen Kulon.
Dalam galerinya yang terbuat dari bahan bambu, Mu’minah tidak bekerja sendirian, tetapi dibantu oleh 15 orang yang semuanya ibu rumah tangga. Setiap bulannya Mu’minah dibantu oleh seorang anaknya Misriyah (37 th) dan 15 orang pembatik lainnya mampu menghasilkan antara 50 sampai 60 lembar batik tulis murni.
Kisaran harganya dipatok antara Rp 180 ribu hingga Rp 350 ribu/lembar tergantung bahan baku yang digunakan dan tingkat kesulitannya. Dari hasil karyanya itu, sebagian besar untuk memenuhi pasar lokal Banjarnegara dan Purbalingga.
Sambil terus mengayunkan cantingnnya di atas kain putih, Mu’minah dengan wajah yang masih menyisakan kecantikannya menuturkan tentang keluhan yang menyangkut permodalan. Selama menjadi seorang pembatik, Mu’minah sering kebingungan memperoleh modal untuk membeli bahan baku kain dan obat-obatan di Sokaraja. Ia baru bisa membeli bahan baku jika hasil karyanya sudah laku, katanya.
Menyinggung tentang proses pembuatan kain batik, secara singkat Mu’minah menjelaskan bahwa membatik adalah menuliskan malam yang dicairkan di atas kompor pada kain yang sudah dipola sebelumnya dengan menggunakan canting.
Kain yang sudah selesai ditulis itu kemudian diberi warna dengan jalan dicelup. Proses pencelupan bisa berulang-ulang tergantung jumlah warna yang dikehendaki. Maka jangan kaget jika satu lembar kain batik waktu yang dibutuhkan bisa mencapai satu sampai dua minggu minggu, sedangkan untuk kain batik yang halus bisa mencapai setengah sampai satu bulan.
Motif batik Gumelem sebagian besar diambilkan dari alam pedesaan, seperti motif Lumbon, Kopi Pecah, Pring Sedapur, Pring Setetek, Parang Cendol, cebong kumpul dan masih banyak sekali motif-motif alam pedesaan lainnya. (s.bag)